Jumat, Agustus 13, 2010

Secangkir Kopi Panas Di Hari Pertama Puasa?


Selain sebagai sarana beribadah, puasa di bulan ramadhon menghadirkan kenangan sendiri bagi yang menjalaninya. Perjuangan untuk bertahan dari lapar dan haus dari pagi sampai sore menjadikan bulan puasa sangat khas dengan segala pernak-pernik yang mengiringinya. Mulai dari makanan yang disajikan, kebiasaan bangun pagi untuk makan sahur, dan segala kebersamaan yang terjalin bersama keluarga sebulan penuh itu.

Mungkin ada yang ingat suasana puasa ketika masih kanak-kanak. Saat itulah kenangan puasa yang paling mengesankan. Semua kegiatan dalam rangkaian ibadah puasa yang dilakukan sepanjang bulan puasa menjadi hal yang akan selalu dirindukan. Belum lagi suasana kemeriahan yang ada di sekitar kita. Pendek kata, di masa kecil dulu saat ramdhan adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu.

Saya mulai menjalankan ibadah puasa sejak kelas 2 SD. Pada waktu itu sekolah libur selama sebulan penuh. Secara fisik mungkin tidak banyak aktifitas yang dilakukan, namun akibatnya hari berjalan menjadi sangat lama. Rentang waktu antara pagi dan saatnya buka puasa menjadi sangat lama. Ketika waktu telah menunjukkan jam 3 sore, maka bau masakan yang tercium dari dapur sangat menyiksa. Biasanya saya tak bosan-bosan untuk melongok ke dapur melihat masakan apa yang disiapkan ibu untuk berbuka puasa nanti. Saat seperti itu semua makanan terasa sangat menggiurkan. Buah pisang yang terpotong besar-besar sebagai campuran kolak menerbitkan air liur saya.

“Sudah, kalau memang nggak tahan lagi, buka puasa saja!” begitu selalu perkataan Ibu saya. Namun biasanya saya menolaknya, meski penolakan tadi lebih condong kepada rasa malu kepada teman-teman sebaya apabila mereka mengetahuinya.

Puasa pada masa kanak-kanak adalah puasa yang selalu terbayang makanan-makanan lezat, bau harum masakan dan dinginnya minuman yang mengembun pada gelasnya. Tidak seperti jaman sekarang, di mana sarana permainan sebagai perintang waktu banyak tersedia seperti PS (Play Station) misalnya, pada saat itu pilihan untuk sarana permainan sangatlah minim. Kalau pun ada maka permainan yang dilakukan adalah permainan fisik yang menguras tenaga. Akibatnya, keringat bercucuran dan rasa haus pun makin menjadi. Akhirnya mandi adalah pilihan pertama yang dilakukan. Bergayung-gayung air diguyurkan seolah enggan berhenti. Padahal mungkin saja pada saat itu - boleh jadi, seteguk dua teguk air masuk ke tubuh kita melalui mulut.

Kerinduan puasa pada masa kanak-kanak adalah kerinduan akan suasana di bulan ramadhan. Suasana kebersamaan, suasana religius dan yang tidak dilupakan adalah beragam makanan pada bulan puasa dan lebaran. Puasa yang cair tanpa mesti dibebani tujuan untuk apa sebenarnya puasa yang bukan hanya sekedar menahan perut lapar dan haus. Maka puasa kanak-kanak adalah puasa sekedar latihan dan partisipasi. Tak heran, meskipun sedang berpuasa sekalipun masih saja suka bertengkar dengan teman sepermain.

Setelah dewasa, entah apa yang kita rindukan dengan datangnya bulan puasa. Sekedar rindu akan suasananya ataukah rindu kepada makna dan hikmah di dalamnya. Satu bulan ini memang sangat lain dari bulan-bulan lainnya. Bulan suci yang penuh limpahan berkah dan pahala. Satu bulan ini pula kita berusaha berperilaku sebaik-baiknya. Tapi entahlah di bulan berikutnya. Satu bulan ini juga kita berseragam memakai baju koko bagi kaum laki-laki dan berjilbab bagi kaum perempuan, meskipun di bulan lain kita merasa tidak cocok untuk memakainya.

Hari ini hari pertama puasa. Setelah terbangun jam 12 malam, mata saya tak kunjung terpejam sampai saat sahur tiba. Setelah makan sahur dan perut penuh baru terasa mata saya mulai berat. Saya tahan sebentar hingga sholat subuh tiba. Tertidur 2 jam saya memaksakan diri untuk bangun meski mata terasa berat. Saya harus segera berangkat ke kantor.

Setiba kantor tak hilang juga rasa kantuk saya, apalagi hembusan pendingin ruangan terasa dingin sekali pagi ini. Tiba-tiba saya terbayang, seandainya ada secangkir kopi yang panas mengepul mungkin akan menghilangkan rasa kantuk dan menghangatkan badan saya. Wah, kalau saja hari ini bukan bulan puasa, mungkin saya sudah menikmati secangkir kopi itu. Ah, betapa sedapnya!

Ternyata, setelah sekian lama, di hari pertama puasa, saya masih saja terbayang makanan dan minuman ......


[Dari Mas Esha Surya - Birulangit Blog Gaul]

0 Komentar:

Posting Komentar