skip to main
|
skip to sidebar
Menjelang pemilihan kepala daerah adalah musimnya minta surat sehat. Surat ini diperlukan sebagai syarat bisa lolos menjadi "bakal calon" pejabat. Orang bertanya: apakah surat sehat betul mewakili maksud di belakang tujuan membersyaratkannya? Atau masih sekadar formalitas belaka?
Dokter kita belum punya standar baku membuat surat sehat. Belum pula yang khusus buat calon pejabat. Lengkap-tidaknya dokter melakukan pemeriksaan medis sebelum surat sehat ditandatangani, otoritas sertifikasinya tetap dianggap legal. Kendati betapa tak jujurnya pun dibuat, surat sehat bersifat absolut dan final. Baca selengkapnya.
Salah alamat pergi berobat, sering menjadi sebab tidak sembuhnya keluhan yang kita idap. Pasien juga kerap keliru memilih alamat berobat harus ke psikolog ataukah ke psikiater. Untuk maksud itulah tulisan pendek ini dibuat.Pasien yang diajak konsultasi ke dokter saraf pasti matanya langsung membelalak. Bukan karena marah atau takut, tetapi betul-betul terkejut. “Sakitnya di punggung kok dibawa ke dokter orang sinting!” Salah siapa?Sungguh masih malang nasib ahli saraf kita. Sakit saraf, di benak orang Indonesia masih dianggap identik dengan kesintingan. Orang masih berpikir, cuma orang sinting yang perlu diangkut ke dokter saraf. Oleh karena sinting dianggap aib, merasa dipermalukan di depan mertua, pacar, dan tetangga, kalau disuruh mampir ke dokter saraf. Padahal, sejatinya bukanlah begitu. Dalam sejarah medis kita dulu, dokter ahli saraf atau neurolog memang merangkap sebagai ahli kedokteran jiwa juga. Ahli ilmu Saraf hanya mengurusi persarafan tubuh mulai dari otak sampai tulang ekor (Neurology), sedang ahli ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatry) berurusan dengan orang yang jiwanya lagi singit. Kita mengerti, pada keyataannya raga dan jiwa tidaklah terpisahkan. Baca selengkapnya.
SIAPA bilang bangsa kita tidak kocak. Dominasi program lawak di televisi menunjukkan, bangsa kita gemar membanyol. Ketika dunia berlomba mengejar inventor hi-tech yang naik pesat, tingkat partisipasi korupsi kita-menurut koran-sudah sampai kelurahan. Kata seorang profesor, "Wong bisa dan kesempatannya cuma itu!"
Tetangga sebelah bilang, ihwal perkara miring, kita memang nomor satu. Sekian puluh tahun kita rajin memelihara wabah demam berdarah, misalnya. Kocaknya, keluarga korban demam berdarah yang tak tertolong masih ada yang tidak gusar. Padahal, rakyat Belanda yang knalpot mobilnya rusak gara-gara pemerintah membiarkan jalan jeglok saja mencak- mencak menuntut ganti rugi. Baca selengkapnya.
BERITA ada tujuh caleg Provinsi Jawa Tengah yang dinyatakan sakit jiwa (Kompas, 3/1/2004) menjadi fakta baru yang menohok batin bangsa, justru saat kita belajar demokrasi dan belum lagi naik kelas. Diberitakan dari 500 caleg yang sudah diperiksa di RSU Boyolali, 29 Desember lalu, 24 caleg diduga mengalami gangguan jiwa dan tujuh definitif skizofrenia, serta konon antisosial.
Seperti apa perasaan kita sebagai rakyat ketika membaca hal itu? Tak berlebihan bila perasaan miris langsung tumpah, seperti ada sebongkah rasa ngeri. Ngeri melihat realitas itu karena menurut hemat kita calon anggota legislatif (caleg) bukan tukang parkir atau pemain tonil yang boleh sedikit singit. Di mata rakyat, caleg itu bakal tokoh jubir yang perlu sehat jasmani-rohani dan bugar hati-nurani. Sebagai jubir bangsa, alih-alih sakit jiwa, budek saja pun sungguh patut dilarang. Baca selengkapnya.
"Honesty is the first chapter of the book of wisdom." (Thomas Jefferson, The 3rd President of The USA)
ADA teman yang menyangsikan kemampuan seorang calon presiden karena tak jelas jawaban si capres ketika seorang pakar ekonomi bertanya ihwal ekonomi kepadanya. Saya bilang, kita belum lupa sampai saat pelantikannya rakyat Amerika pun tidak sangsi pada pilihannya terhadap Ronald Reagan yang lebih bintang film ketimbang ekonom. Kita melihat, di bawah administrasi Reagan ekonomi AS nyatanya tidak jelek.
Presiden yang ekonom pun belum tentu memberi jaminan ekonomi bakal tumbuh kalau lembek memimpin. Tanpa kompetensi memimpin, niscaya lunglailah pohon negara. Itu sebab orang bilang, paling kurang presiden punya kemampuan leadership dan cukup sekadar berwawasan generalis, yang tahu banyak hal walau serba sedikit. Baca selengkapnya.
INGAT acara Indonesian Idol sebuah stasiun TV swasta, ingat pemilihan presiden kita sekarang ini. Selain keberanekaragaman peminatnya, cara audisi dan eliminasi nominasinya pun enak ditonton. Kocak, seru, dan menggelitik pula.
Kita menyaksikan di Indonesian Idol beraneka perangai dan sifat manusia berambisi. Ada yang lugu, polos, arogan, nekat, serta tingkah polah dan tampang-tampang bagaimana di hadapan juri kemartabatan seseorang bisa menjadi begitu rendah, sudi dinistakan sekadar supaya bisa lolos terpilih. Namun, apa pun eloknya keputusan juri, toh yang akhirnya memutuskan mayoritas SMS para pemirsa juga.
Analog dengan itu proses pencalonan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) kita. Siapa saja, tanpa ada ketentuan perlu mawas menakar kemampuan, alih-alih tahu diri, boleh-boleh saja nekat seperti calon peserta Indonesian Idol, asal lulus SLTA, sehat jasmani rohani, dianggap pantas berani mati mencalonkan diri sebagai capres, atau merasa tersanjung dipilih jadi cawapres. Baca selengkapnya.
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 tidak hanya meninggalkan rasa suka pada sebagian orang namun juga duka yang mendalam pada para caleg yang gagal menjadi wakil rakyat. Ada yang stress, ada yang meninggal dunia, ada yang bunuh diri, ada yang ngamuk dan lain sebagainya.
Hal tersebut sudah diprediksikan sebelumnya mengingat apa yang mereka lakukan agar bisa menjadi wakil rakyat tidaklah rasional. Mereka mengeluarkan uang hingga milyaran rupiah bahkan ada yang sampai berhutang ke bank maupun lintah darat. Namun hasil yang didapat tidak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan.
Bahkan beberapa bulan sebelumnya sejumlah Rumah Sakit Jiwa telah menyiapkan kamar2 khusus untuk para calon anggota dewan yang gagal tersebut. Berikut adalah sepenggal kisah dari para calon anggota dewan yang gagal di Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009.
Baca selengkapnya.