Memeriksa Kemiringan Otak

Salah alamat pergi berobat, sering menjadi sebab tidak sembuhnya keluhan yang kita idap. Pasien juga kerap keliru memilih alamat berobat harus ke psikolog ataukah ke psikiater. Untuk maksud itulah tulisan pendek ini dibuat. Pasien yang diajak konsultasi ke dokter saraf pasti matanya langsung membelalak. Bukan karena marah atau takut, tetapi betul-betul terkejut. “Sakitnya di punggung kok dibawa ke dokter orang sinting!” Salah siapa?

Sungguh masih malang nasib ahli saraf kita. Sakit saraf, di benak orang Indonesia masih dianggap identik dengan kesintingan. Orang masih berpikir, cuma orang sinting yang perlu diangkut ke dokter saraf. Oleh karena sinting dianggap aib, merasa dipermalukan di depan mertua, pacar, dan tetangga, kalau disuruh mampir ke dokter saraf. Padahal, sejatinya bukanlah begitu. Dalam sejarah medis kita dulu, dokter ahli saraf atau neurolog memang merangkap sebagai ahli kedokteran jiwa juga. Ahli ilmu Saraf hanya mengurusi persarafan tubuh mulai dari otak sampai tulang ekor (Neurology), sedang ahli ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatry) berurusan dengan orang yang jiwanya lagi singit. Kita mengerti, pada keyataannya raga dan jiwa tidaklah terpisahkan.

Beda Jurusan
Kendati kedua keahlian setubuh-sejiwa itu sekarang sudah pisah ranjang, citra yang masih tersisa, dokter saraf dianggap masih berselingkuh dengan orang gila. Padahal, trayek buat jurusan pasien tidak waras sepenuhnya jatah psikiater, dan bukan neurolog.

Gampangnya, neurolog atau dokter saraf itu dokter jurusan stroke, sakit pinggang, encok, pegal-linu, kesemutan, matirasa, mata kedutan, dan semua keluhan yang selain berasal dari otak, ada sangkut-pautnya dengan urusan otot, tulang, dan sendi. Termasuk kalau mulut mendadak menceng, atau mata sekonyong-konyong jereng yang bukan lantaran akibat melirik yang cantik atau ganteng. Di musim semi perpolitikan kita sekarang, peran dokter saraf mestinya dilibatkan pula memeriksa semua politikus dan penyelenggara negara, siapa tahu kedapatan yang menyimpan bakat stroke, selain butuh psikiater pula untuk mengukur kemiringan otaknya.

Mengapa hal itu dipandang perlu?
Oleh karena cacat yang disisakan stroke bisa sama centilnya dengan vonis skizofrenia alias jiwa yang terbelah bin gangguan jiwa. Malu kita kalau sampai ada penguasa yang baru saja dilantik besoknya jalannya sudah mengesot.

Tanpa Obat
Ihwal ahli jiwa atau psikolog jurusan yang lain lagi. Psikolog bukan dokter. Kendati menggeluti Psychology atau Ilmu Jiwa, tamunya bukan pasien yang jiwanya lagi oleng. Salah alamat kalau calon menteri yang mau minta surat sehat jiwa datang berkunjung ke rumah psikolog, kecuali kalau tujuannya cuma mau arisan. Namun, yang suka rancu membedakan psikolog dengari psikiater bukan cuma orang di pinggir jalan. Pasien terpelajar pun sering salah mampir. Sebut saja contoh kasus seorang pasien jejaka misal, bertanya, “Ke mana berobatnya kalau saat membayangkan dada Jennifer Lopez sama saja perasaannya dengan waktu memandang nenek Si Atun pakai bikini?” saking bingungnya. Atau kasus sudah gede kok masih kayak anak kecil.

Maka jangan salahkan para calon pejabat dulu-dulu kalau banyak yang bingung salah masuk kamar periksa ketika minta surat sehat jiwa. Boleh jadi lantaran yang tertera di pelang praktik psikolog dan psikiater sama-sama ada tulisan jiwa, sebagaimana layaknya orang masuk gedung bioskop, dikira sama judul filmnya. Padahal, yang satu memutar film Mr Bean, dan satunya film Tarzan Masuk Kota.

Dari dulu belum berubah kalau psikolog itu menekuni bagaimana proses mental dan perilaku manusia normalnya akan berkembang. Mendalami seperti apa proses kejiwaan yang normal, apa saja yang mempengaruhi, mengapa seseorang menjadi abnormal, bagaimana seharusnya menjadi, lalu melempangkan sekiranya ada perilaku yang mencong. Caranya dengan terapi omong-omong, bukan resep obat, suntikan, apalagi melakukan cangkok ginjal. Ilmu Jiwa sendiri masuk dalam senyawa Ilmu Psikiatri.

Dalam praktiknya, psikolog dilarang memberi obat karena jurusannya memang tidak satu trayek dengan psikiater. Psikolog cuma memandang pantai, psikiater terjun ke laut. Pasien psikolog umumnya waras, dan terapinya tak memerlukan obat. Psikolog bisa diajak kerja sama dengan ekonom, politisi, sosiolog, misal, ikut mengevaluasi keefektffan ongkos program pemerintah dalam mengurangi masalah-masalah sosial, misalnya. Jarang yang mau mengajak kerja bareng dengan psikiater, boleh jadi lantaran kerja sama dengan psikiater dianggap berisiko takut bisa menular. Awam bilang, yang bekerja psikiater tingkah lakunya berisiko rawan jadi mirip seperti pasiennya.

Praktik psikiater juga berisiko menjadi jemu dengan kerja profesinya. Boleh jadi lantaran yang dihadapinya lagi-lagi pasien yang omongannya suka ngalor-ngidul, emosinya kembang kempis, janggal pula tindak-tanduknya. Pasien sakit jiwa tak cukup diobati cuma dengan omong-omong belaka, hampir semua perlu intervensi obat-obatan juga.

Ambil contoh kasus yang satu ini. Jika ada calon pejabat yang ditanya, “Apa perasaan Anda di ruang rapat ini?", dan jawabannya, “Saya mendengar ada suara-suara wahyu membisiki saya, dan omongan saya di ruangan rapat ini sedang disadap oleh anggota Partai Anu...,” barang pasti yang begini harus buru-buru dibawa ke psikiater, bukan ke psikolog, apalagi mengajaknya ke warteg.

Memeriksa Kemiringan Otak
Untuk mengecek seorang calon pejabat, atau siapa pun dia, perlu diamati jiwanya masihkah lempang atau sudah bengkok. Untuk itu dibutuhkan kompetensi psikiater. Dengan cara menempuh wawancara psikiatrik, pemeriksaan status mental menggunakan tools (kuesioner khusus), barangkali diperlukan pula pemeriksaan rekam dan pemindaian otak, kasus calon pengasuh bangsa yang miring pasti bakal terjaring. Bukan cuma posisi miringnya otak, melainkan berapa persis kemiringannya, semua jenis penyakit otak bermasalah yang tak boleh diidap calon penyelenggara negara atau siapa pun dia, bisa dengan jitu didiagnosis, lalu disingkirkan dari barisan calon laik pejabat.

Di antara lebih 300-an jenis derajat kemiringan penyakit jiwa, skizofrenia jenis yang paling miring. Orang yang jiwanya terbelah terputus kontaknya dengan dunia luar, dan hidup asyik musyuk dengan dunia yang dibangunnya sendiri. Pikiran, emosi, perilakunya bukan saja tidak serasi, melainkan juga menyimpang dari biasa. Tak usah selevel psikolog atau psikiater, orang d pinggir jalan pun sebetulnya bisa mudah mengenali kalau ada orang yang di dalam batok kepalanya sudah miring betul. Orang yang miringnya baru singit-singit sedikit mungkin belum begitu kelihatan, bahkan oleh kejelian seorang psikiater sekalipun.

Itu perlunya agar orang yang sakit jiwanya masih samar-samar tidak sampai lolos duduk di kursi wakil rakyat, bekerja di layanan publik, diwajibkan pula menempuh beberapa tes psikiatrik khusus yang hanya bisa reliable dan sahih jika dibakukan oleh psikiater, bukan oleh bidan, apalagi minta bantuan dokter hewan.

Sekian terima kasih


KOMPAS | Tanggal: n/a | Opini | Oleh dr. Handrawan Nadesul

Posting Komentar

0 Komentar