Jumat, Desember 25, 2009

Anak Super Di Jembatan Setiabudi


Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setiabudi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik merah.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom!". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong merah tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita. Senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta. "Terima kasih ya mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya, ada uang pas nggak mbak?" mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak sekitar empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebanyak empat ribu rupiah. "Nggak punya," tukas saya. Lalu tak lama si wanita pun berkata "Ambil saja kembaliannya, dik!" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur. Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya ke genggaman saya yang masih tetap berdiri di sana. Lalu dengan sigap ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang "Sudah buat kamu saja, nggak apa-apa, ambil saja!" Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil buru-buru pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar "Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!" "Eeh, nggak usah, nggak usah, biar aja .. nih!" Saya berikan uang itu ke sikecil. Ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu. Sebentar saja!"

"Nggak apa apa, itu buat kalian." Lanjut saya. "Jangan! Jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga." anak itu bersikeras. "Sudah, saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!" Saya berusaha bargain, namun ia menghalangi saya sejenak kemudian berlari ke ujung jembatan sambil berteriak memanggil temannya untuk bergegas, secepat kilat ia juga meraih kantong plastik merahnya kemudian berlari kearah saya. "Ini deh om, kalau kelamaan, maaf." Ia memberi saya delapan pack tissue. "Buat apa?" saya terbengong. "Habis, teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu." Walau saya berkeras mengembalikan tissue itu namun ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic merah tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, mengambil tissue dari tangan saya dan menggantinya dengan uang empat ribu rupiah. "Terima kasih Om!" Katanya polos. Kemudian mereka pun kembali ke ujung jembatan.

Sayup sayup terdengar percakapan di antara keduanya, "Duit mbak tadi gimana?" suara kecil yang lain menyahut "Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi, ntar kita kasihin." Tak lama kemudian suara mereka pun menghilang ditelan deru kendaraan yang lalu-lalang. Saya terhenyak sebentar, kemudian kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super. Kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh. Mereka memang berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain. Mereka berusaha untuk tidak meminta-minta dan dengan jujur berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di usia mereka yang masih begitu belia.

"YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO - Anda hanya semulia apa yang anda kerjakan."

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun rizkinya berkurang meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain. Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.


Penulis: n/a (milis dari teman-teman GSM)







0 Komentar:

Posting Komentar